Pakistan mengalami banjir bandang yang menewaskan lebih dari 1000 orang sejak Juni 2022 lalu. Banjir bandang ini disebabkan karena hujan lebat dan curah hujan yang tinggi. Sementara itu beberapa media menyebut banjir itu merupakan imbas musim hujan yang sangat basah. Diketahui musim hujan monsum barat berlangsung pada akhir Juni hingga September di Pakistan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pakistan mengungkap lebih dari dua juta hektar tanaman budidaya musnah, 3.451 km jalan hancur, dan 149 jembatan hanyut. Banjir ini berdampak kepada lebih dari 33 juta orang dan sekitar satu juta rumah hancur.
Berbagai gletser raksasa di Pakistan yang terus mencair dalam jumlah besar turut memperburuk banjir bandang yang menerjang negara Asia Selatan itu. Kepala ahli Meteorologi Pakistan mengatakan sepanjang 2022 saja tercatan tiga kali lipat “ledakan” danau glasial. Air bercampur gletser yang mencair tumpah ruah begitu saja dan menyebabkan banjir.
“Insiden seperti itu terjadi setelah gletser mencair karena kenaikan suhu, perubahan iklim merupakan alasan dasar untuk hal-hal semacam itu” kata Pejabat Departemen Meteorologi Pakistan, Sardar Sarfaraz kepada CNN, Kamis (1/9). Pencairan Gletser menjadi salah satu tanda dan dampak krisis iklim. Meski begitu, sejauh ini masih belum jelas seberapa besar pengaruh gletser mencair ini terhadap banjir di Pakistan. Namun, perubahan iklim yang ekstrem bisa saja membuat gletser terus mencair dengan cepat, imbuh Sarfaraz.
Sumber:
suara.com
cnnindonesia.com
youtube.com
